Bangun Karakter Siswa SMPN 1 Enrekang Dengan Bank Sampah


Siswa SMPN 1 Enrekang sedang mengumpulkan sampah dari kelasnya masing-masing di penampungan akhir di sekolah

Tidak kurang dari 15 kg sampah unorganik yang dikumpulkan siswa dalam setiap minggu. Sampah itu sudah pasti akan mencemari lingkungan sekolah jika tidak dikelola dengan baik. Itu baru sampah unorganik. Sampah organik pun tak kala banyaknya, khususnya sisa-sisa makanan yang harus dibuang oleh kantin sekolah setiap hari. Semua limbah itu  dapat dijadikan media dan sumber belajar siswa. Demikian diutarakan Dra. H. Darmiati Siampa, M.Pd, Kasek SMPN 1 Enrekang.  Bahkan, ia lebih kritis melihat kalau isu sampah dan minimnya kepedulian siswa terhadap sanitasi lingkungan merupakan problema tersendiri di kalangan siswa. “Oleh karena itu, saya berharap guru-guru dapat lebih inovatif untuk menjadikan sampah dan sanitasi lingkungan sebagai bahan pembelajaran kontekstual,”ujarnya. 

End it using something which will add some reality to your own article. One factor you ought to be clear about before you begin your composition is the sort of composition you are going to be writing. It really is the kind of document you’d write before writing a remedy document. Evidently, 1 alternative to swiftly realize what exactly is required for the type of article you really have now been requested to write may be to get some sort of test essay creating to utilize as helpful tips.

What you find yourself performing here significantly relies upon the form of essay you’re thinking about composing affordable papers. This sort of article is a favorite in technology and history courses. It truly is really an educational kind of authorship, and is ordinarily identified in textbooks, publications, papers, and the Internet. This really is among the main options that come with essay creating.

This kind of writing can be utilized for both, misinformation and nonfiction. When researching several examples, make certain to find one which is closely connected to what it’s you’re authoring. Writing type is among the primary facets on paper.

Sebagai solusi untuk masalah tersebut, Darmiati bersama timnya mengembangkan program yang disebut Bank Sampah. Inisiatif yang diluncurkan di awal tahun 2012 itu bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian siswanya terhadap sampah dan sanitasi lingkungan. Ketua Bank Sampah, Sri Astuti, S.Pd, mengelola program itu secara cermat dan partisipatif dengan melibatkan siswa, OSIS, dan masyarakat. Langkah-langkah yang dilakukan dimulai dengan membentuk tim pengelola sampah di setiap kelas, terdiri dari koordinator, sekretaris, dan bendahara. Tugas pokok tim itu adalah menyadarkan teman-temannya untuk bekerja bersama-sama (1) memilah dan membuang sampah ke kaleng warna Hijau untuk sampah organik dan ke kaleng warna Kuning untuk sampah unorganik. (2) membawa sampah dari kelas masing-masing ke tempat pengumpulan akhir di sekolah. (3) memisahkan sampah bekas gelas minuman: sampah untuk bahan praktik mata pelajaran keterampilan (KTK) dan sampah untuk  dijual; (4) menimbang sampah unorganik-khusus botol/gelas plastik dari air mineral, mountea, cola dll- lalu dijual ke pedagang pengumpul sampah pada setiap hari Sabtu; (5) mengelola keuangan hasil dari penjualan sampah; (6) memfasilitasi teman-temannya untuk membuat pupuk dari limbah organik. 

Sejak melaksanakan program itu tampak sekali perubahan pada sikap dan prilaku siswa demikian pula perubahan pada lingkungan sekolah. Darmiati, yang juga  Mnajemen Berbasis Sekolah (MBS) program USAID PRIORITAS itu memaparkan kalau siswanya saat ini sangat peduli akan kebersihan. Mereka lebih disiplin, lebih peduli, dan bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan sekolah. Mereka jujur mengelola uang hasil penjualan sampah mereka. Setiap minggu mereka menjual rata-rata 15-18 kg limbah gelas/botol minuman. Setiap kilogram sampah mereka jual dengan harga Rp. 2.000.  Hasil penjualan itu dimasukkan ke kas kelas Rp. 1.500 dan ke kas OSIS Rp. 500. Uang kas itu dialokasikan untuk pemeliharaan kebersihan dan keindahan kelas serta untuk biaya kegiatan OSIS. Para siswa menjadi lebih terampil dan kreatif membuat kerajinan tangan dari limbah organik, seperti pot bunga, tirai jendela, dll. Selain itu, juga mereka terampil membuat pupuk organik yang dipakai untuk merawat tanaman dan bunga di halaman sekolah.  

Pendapatan Asli Sekolah

“Kami mengelola dua kantin sekolah yakni, Kantin Kejujuran dan Kantin Sehat dan Bersih.  Upaya menumbuhkan perilaku hidup sehat dalam lingkungan sekolah yang bersih tetap menjadi motivasi kami,” papar Darmiati. Kantin yang disebut terakhir itu dikelola sebagai salah satu fund rising (sumber pendanaan) sekolah. Tujuannya utamanya adalah: (1) menyediakan makanan, kue jajanan dan minuman yang higenis tanpa bahan pengawet, pemanis, dan pewarna berbahaya; (2) menciptakan sumber pendapatan asli sekolah dengan pendekatan pemberdayaan sekolah dan orang tua siswa. Sekolah menyediakan bahan dan orang tua siswa yang mengolahnya jadi makanan siap dikonsumsi.

Dra. Nurlina, guru dan selaku manager kantin, mengaku menjual makanan dan minuman yang  variatif kepada lebih kurang 39 orang guru dan 700 siswa setiap hari. Harga per porsi makanan juga sangat terjangkau oleh siswa, mulai dari harga Rp. 3.500 hingga Rp. 10.000, tergantung lauk pauk yang dipilih.

Kantin yang didirikan pada tahun 2009 itu benar-benar menjadi sumber pendapatan asli sekolah. “Setiap tahun kami membukukan keuntungan bersih sebanyak Rp.25.000.000. Namun, yang sangat penting adalah  transparansi dan akuntabilitas pengelolaannya,” kata Darmiati. Menurutnya, keuntungan yang diperoleh itu dialokasikan untuk membiayai empat kegiatan yakni: kegiatan penataan taman sekolah, kebersihan lingkungan sekolah, kegiatan kesiswaan, dan kegiatan peningkatan kualitas guru. Kegiatan peningkatan kualitas guru meliputi penyediaan konsumsi guru pada kegiatan Lesson Study di sekolah, kegiatan MGMP, maupun kegiatan lainnya. Sementara itu, alokasi untuk kegiatan kesiswaan meliputi pramuka dan pengembangan diri siswa. Pendapatan asli sekolah baik hasil dari Kantin Sehat maupun hasil dari Bank Sampah itu telah memberi sumbangsih nyata terhadap kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah. 

“Melalui kedua program itu, Bank Sampah dan Kantin Sehat Sekolah, kami  memotivasi anak-anak kami untuk lebih peduli pada lingkungan dan kebersihan sekolah. Hasilnya, Alhamdulillah kami meraih penghargaan Adiwiyata, Juara I sekolah peduli lingkungan tingkat Kabupaten Enrekang,” ujar Darmiati, kepala sekolah inisiator pembelajaran  sistem moving class di sekolahnya sejak bermitra dengan DBE-USAID. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *